Cerpen Sedih - Kalut Dalam Kalbu

KALUT DALAM KALBU


Aku masih ingat sekali. Sore itu, ketika mainan ku terlepas dari tangan ku, aku melangkah menuju dapur. Kukira teriakan ibu dan ayah akan terus beradu hingga salah satu pintu dirumah ini akan dihempaskan. Tapi tidak.
Baru kali ini ketika mereka beradu mulut, tidak ada bunyi hempasan pintu yang terdengar. Tidak biasanya pikirku. Aku melangkah pelan, melirik melalui celah tembok, melihat bayangan itu mencengkram kepalanya sendiri. Kuberanikan diriku untuk melangkah masuk, melihat ayah menangisi ibu yang sedang terlentang.
"Ayah, ibu kenapa?" Aku mempelajari apa yang sedang terjadi "Ibu berdarah!" Aku terkejut, berlari kearah ibu.
"Bu, ibu kenapa!? Tertusuk pecahan kaca? Atau jarum? Kenapa darahnya sebanyak ini bu? Ibu sakit!!?" Ibu tak merespon tanya ku, apakah ibu tertidur? Mana bisa tidur sewaktu terluka seperti ini. Kemudian kulihat sebilah pisau jatuh dari tangan ayah, mengalir darah dari ujung mata pisaunya.
******

Penyesalan. Ketika aku tidak mengenal apa itu "mati" waktu itu. Kukira ibu tertidur. Kukira darah yang mengalir dari tubuh ibuku hanya sebekas tertusuk pecahan kaca atau jarum. Karena baru sebatas dua hal itu saja yang kutau bisa menyebabkan darah keluar. Tapi bukan dua-duanya. Itu karena pisau, yang terjatuh dari tangan ayah, yang berlukiskan darah di badan pisaunya. 

Penyesalan. Harusnya aku menangis waktu itu, menangis sekeras mungkin. Berteriak, mengambil pisau itu kemudian menghunuskannya kepada lelaki keparat itu. Air mata nya keluar setelah dia membunuh tubuhnya, tidak pernah keluar ketika ia membunuh hatinya. Air mata itu palsu, apakah ia masih menangisi nya di kurungan besi disana? Semoga saja tidak, karena ibu pasti akan merasa hina ditangisi laki-laki seperti itu.

Selalu menjadi penyesalan. Mengapa Ya Tuhan!? Harus lelaki itu yang mengawini ibu!? Biar saja aku tak lahir, asalkan bukan dia yang mengawini ibu!? Biar saja aku Engkau lahirkan menjadi bayi yang prematur atau anak yang cacad mental. Asal laki-laki itu tidak mengawini ibu!!! Agh!!!
Harusnya laki-laki itu jangan di kurung. Tapi bawa kehadapanku, lalu aku hajar wajahnya, ku congkel matanya! Ku tusuk mulutnya dengan besi panas! Neraka harusnya dibawa lebih dini padanya, dan aku sebagai malaikat penyiksanya.

Hingga atas semua penyesalan itu, aku menyesal! Aku menyesal telah menyesalinya! Kini tuhan menghukumku! Menghukum anak seorang pelacur dan pemabuk! Menghukum ku yang seorang anak haram, hasil dari sperma seorang pemabuk. Aku...aku sayang ibuku, dan aku... benci ayahku...

Aku dihukum, dalam sebuah tubuh yang tidak mampu kukendali. Otakku rusak karena penyesalan itu. Otakku rusak, tak ada yang sempat memperbaikinya. Sepuluh tahun dengan ingatan itu, sangatlah menyiksa. Tubuh ibu yang terlentang dengan darah menggenang, menjadi satu-satunya kenangan yang selalu terngiang di kepalaku. Aku sah menjadi orang gila sekarang...

Sama seperti ayah, akupun berada dalam kurungan sekarang. Kurungan bagi seorang yang tak waras. Yang mencelakakan orang ketika pasunganku dilepas. Para perawat dan penjenguk menakutiku. Mereka takut akan diriku, seorang yang tenggelam dalam kalutnya masa lalu, yang ditelan dalam kelabunya garis hidupku...
Ingatan itu terulang dan terulang lagi. Penyesalan semakin bertambah seiring semakin seringnya ingatan itu terulang.

Aku masih ingat sekali. Sore itu, ketika mainan ku terlepas dari tangan ku...Mainan itu adalah foto ibu dan ayah yang sedang menggendongku.



0 komentar:

Posting Komentar